Rabu, 01 April 2020

Tahukah kamu apa itu PMS (Premenstrual Syndrome)?

TAHUKAH KAMU APA ITU PMS?


Apa itu PMS? Pernah dengar? Atau malah sudah familiar? Biasanya kalau ada teman yang sedang badmood dibilang PMS tanda-tanda dia akan menstruasi. Benar atau tidak ya? Atau hanya sekadar mitos? Itu fakta. Mari ikuti penjelasannya.

Wanita usia remaja mengalami masa pubertas dimana salah satunya ditandai dengan menstruasi. Siklus menstruasi ini biasanya selama 28 hari. Sebelum wanita mengalami menstruasi biasanya terdapat gangguan seperti gejala emosioal dan fisik yang disebut Prremenstrual Syndrome (PMS). 
PMS (Premenstrual Syndrome) adalah konstelasi gejala termasuk gangguan mood ringan dan gejala fisik yang terjadi sebelum menstruasi dan diakhiri dengan mulainya (inisiasi) mentruasi. Gangguan ini umumnya terjadi pada wanita muda dan setengah baya, ditandai dengan gejala emosional dan fisik yang secara konsisten terjadi selama fase luteal dari siklus menstruasi. Wanita dengan gejala afektif yang lebih parah berarti memiliki kelainan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Hingga 80% wanita menstruasi mengalami gejala PMS dan  sekitar 3% hingga 9% wanita memiliki PMDD.

Penyebab PMS hingga saat ini masih belum diketahui dengan pasti, namun terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya terjadi ketidakseimbangan faktor hormonal. Beberapa wanita secara biologis rentan atau cenderung mengalami PMS karena sensitivitas neurotransmitter terhadap perubahan fisiologis pada hormon. Kadar hormon estrogen meningkat melebihi batas normal sedangkan hormon progesteron menurun. Selain itu terdapat faktor kimia yang utama adalah serotonin yang rendah dimana dapat memicu depresi, kecemasan, agresif, kelelahan, dan mudah marah. Beberapa bukti menunjukkan bahwa gejala PMS dan PMDD terkait dengan kadar rendah allopregnanolone metabolit progesteron aktif terpusat dalam fase luteal dan/atau kadar asam γ-aminobutyric kortikal yang lebih rendah dalam fase folikel.

Menurut Rosemary (2009), gejala PMS terbagi menjadi dua golongan yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif diantaranya terjadi peningkatan energi, peningkatan libido dan rasa percaya diri. Adapun gejala negatif diantaranya kelelahan, iritabilitas, mood yang labil, depresi, gelisah, oversemsitif, sulit konsentrasi, perut kembung, nyeri payudara, sakit kepala, perubahan nafsu makan, dan gangguan pencernaan.

Wanita yang mengalami gejala PMS mengalami penurunan signifikan terhadap kegiatan dan hubungan sosial. Gejala-gejala tersebut dapat diatasi dengan swamedikasi yaitu dengan terapi farmakologis dan nonfarmakologis.
-          Terapi Nonfarmakologis (Tidak dengan Obat)
                 Terapi nonfarmakologis dapat dilakukan dengan beberapa perubahan gaya hidup. Pada wanita dengan gejala ringan diperlukan perubahan pola hidup termasuk diet sehat, pembatasan asupan natrium dan kafein, olahraga, dan pengurangan stress. Pada wanita dengan gejala sedang, diperlukan pengobatan farmakologis dan modifikasi gaya hidup seperti suplemen vitamin dan mineral, seperti vitamin B6 (50-100 mg setiap hari) dan kalsium karbonat ( 1.200 mg setiap hari). Intervensi gaya hidup harus dimulai dan diikuti selama 2 bulan sebelum menujukkan gejala PMS. Pada terapi/pengobatan gejala PMS tidak boleh direkomendasikan obat-obatan herbal, pengobatan homeopati, suplemen makanan , relaksasi, terapi pijat, refleksologi, perawatan chiropraktik, dan biofeedback karena berkaitan dengan kurangnya masalah keamanan data.
-          Terapi Farmakologis (Dengan Obat)
Jika gejalanya tidak berubah setelah 2 bulan charting gejala dan modifikasi gaya hidup maka diperlukan terapi farmakologis. Terapi farmakologis yang utama pada PMS adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs) seperti citalopram, escitalopram, fluoxetine, fluvoxamine, paroxetine, dan sertraline. Perlu diperhatikan pada penggunaan paroxetine karena dapat meningkatkan risiko kelainan bawaan pada trimester pertama kehamilan. Paroxetine harus dihindari oleh wanita subur karena merupakan bentuk kontrasepsi. Adapun terdapat obat alternatif lain yaitu seperti selective serotonin-norepinefrin reuptake inhibitor (SNRI) venlafaxine, serta agonis HCs. Jika pengobatan dengan opsi di atas tidak berhasil, dapat dengan menggunakan terapi hormonal dengan agonis GnRH, seperti leuprolide. Leuprolide meningkatkan gejala emosional pramenstruasi serta beberapa gejala fisik, seperti kembung dan nyeri payudara. Namun, penggunaan terbatas karena pemberian secara intramuskuler dan efek samping hipoestrogenisme (misalnya, kekeringan pada vagina, hot flash, dan demineralisasi tulang) sangat membatasi penggunaannya.

Referensi:
Joseph T. DiPiro, et.al. 2016. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach Tenth Edition. McGraw-Hill Education.
Dickerson LM, Mazyck PJ, Hunter MH. 2003. Premenstrual Syndrome. Am Fam Physician 67(8):1743-1752
Rosemary R. Berardi, et.al. 2009. Handbook of Nonprescription Drugs_ An Interactive Approach to Self-Care Sixteenth Edition. Washington DC: American Pharmacist Association.

Tahukah kamu apa itu PMS (Premenstrual Syndrome)?

TAHUKAH KAMU APA ITU PMS? Apa itu PMS? Pernah dengar? Atau malah sudah familiar? Biasanya kalau ada teman yang sedang badmood dibilang ...